Apa kata Albert Einstein?
Akal sehat adalah kumpulan prasangka yang diperoleh menjelang usia delapan belas tahun
Tidak banyak orang yang dapat dengan tenang mengungkapkan pendapat-pendapatnya yang berbeda dari prasangka-prasangka lingkungan sosial mereka. Kebanyakan orang bahkan tidak mampu membentuk pendapat-pendapat seperti itu.
Terkadang saya bertanya kepada diri sendiri, bagaimana saya bisa menjadi orang yang mengembangkan teori relativitas. Alasannya, saya rasa adalah karena orang dewasa yang normal tidak pernah berhenti memikirkan masalah-masalah ruang dan waktu. Semua ini adalah hal-hal yang telah diajarkan ketika saya masih kanak-kanak. Tapi perkembangan intelektual saya terhambat, sehingga saya harus mulai bertanya-tanya waktu dan ruang setelah saya dewasa.
Manusia berusaha membuat bagi dirinya, gambaran tentang dunia yang disederhanakan, yang intelijen, dengan cara yang paling cocok banginya; lalu ia berusaha menggantikan kosmosnya ini demi dunia pengalaman, dan oleh karenanya mengatasinya.
Tak ada tanda yang lebih pasti tentang ketidak warasan ketimbang melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasilnya berbeda-beda.
Satu-satunya hal yang menghambat pembelajaran saya adalah pendidikan saya.
Untuk menghukum saya karena menghina pihak yang berkuasa, nasib menjadikan saya sendiri penguasanya.
Keseluruhan ilmu pengetahuan tidaklah lebih dari penyempuranaan pemikiran sehari-hari.
Terkadang hal-hal yang kita peroleh dengan Cuma-Cuma, justru kita bayar paling mahal.
Masalah-masalah penting yang kita hadapi tak dapat dipecahkan dengan pemikiran yang sama tingkatannya seperti ketika kita menciptakan masalah-masalah tersebut
Di bidang pengamatan, nasib mujur hanya berkenan kepada pikiran yang siap.
Hendaklah segalanya dibuat sesederhana mungkin, tetapi bukan asal sederhana.
Takkan timbul sesuatu yang benar-benar berharga dari ambisi atau sekedar merasa berkewajiban.
Seandainya kita tahu apa yang sedang kita kerjakan, itu takkan disebut sebagai riset, bukan?
Yang paling tidak dapat dipahami tentang dunia adalah bahwa ia tidak dapat dipahami.
Telegraf tanpa kawat itu tidak sulit dipahami. Telegraf biasa itu adalah ibarat kucing yang sangat panjang. Anda tarik ekornya di New York maka ia akan mengeong di Los Angeles. Yang tanpa kawat itu juga sama, hanya saja tanpa kucing.
Sejauh hukum-hukum matematika mangacu kepada kenyataan, mereka tidak pasti. Dan sejau mereka pasti, mereka bukan mengacu kepada kenyataan.
Saya tidak punya bakat khusus. Saya hanya luar biasa ingin tahu saja.
Kenyataan itu hanyalah ilusi, walaupun sangat gigih.
Satu-satunya alasan adanya waktu karnea segalanya tidak terjadi sekaligus.
Kalau A adalah sukses dalam kehidupan, maka A = x + y + z ; x adalah kerja, y adalah main dan z adalah tutup mulut.
Kalau saya bukan ahli fisika, mungkin saya menjadi musisi.
Tidak semua hal yang penting itu dapat dihitung, dan tidak smeua hal yang dapat dihitung itu penting.
Is It All luck