Jun 10 2008
BBM Naik! Harga Kebutuhan Naik!
Saya jadi ragu sama mulut manis yang mengatakan “Selama ini yang disubsidi adalah orang-orang golongan menengah keatas”, dengan alasan itu juga BBM naik supaya subsidi benar-benar berlaku bagi rakyat kecil.
Kok bisa? Kenyataannya suara teriakan-teriakan lantang memang kurang semarak dibanding kenaikan BBM sebelumnya. Tapi itu pertanda bahaya.. Kalau dulu rakyat kecil berteriak dengan sisa-sisa nafas terakhir, sekarang mereka diam mungkin karena sudah tidak bernafas lagi..
Coba kita lihat dari hal-hal kecil, makanan warung harga naik Rp 1000, - Rp 3000, angkutan umum naik, beras naik, minyak makan naik, gula, cabe semua naik.
Apa ga salah tuh kalau masih berani bilang “subsidi bagi rakyat kecil”?
Ahh bisa aja…
Kenapa ya Pemerintah itu suka manis dimulut duluan..??
Kalau memang kondisinya “pahit” jangan mengumbar yg “manis-manis”..
Ingat film si Manis Jembatan Ancol?
Namanya memang “Si Manis”, body ok, cantik, tapi semanis-manisnya dia tetap aja itu Hantu!
Pemerintahkan ga perlu meniru-niru film itu..
Kondisi lain, keuntungan trilyunan rupiah dari BBM dianggap kerugian.. Kenapa ga bilang aja dengan istilah aslinya, misalnya : keuntungan yang didapat negara itu kecil.. Tidak perlu hiperbola jadi kerugian negara..
Waduuhhhh…..
Ono opo toh??
Kalau memang BBM naik, maka step pertama yang harus dilakukan pemerintah menurut saya, memberi penjelasan secara transparan, jujur, dan apa aja efek-efeknya lebih dulu buat masyarakat.. Lalu bagaimana andil pemerintah untuk sedikit meringankan “beban rakyat”.
Dan masyarakat juga harus bisa cooperative dalam hal ini dengan melihat kondisi “di lapangan”.
Mendingan jangan janji yang muluk-muluk, kalau kemampuan yang ada sangat amat terbatas..
Tapi sekarang apa kata pemerintah jadi sulit dipercaya…
Ada 1 kebohongan, pasti ada kebohongan-kebohongan lain dibelakangnya..
Ada 1 kejujuran, belum tentu ada kejujuran-kejujuran yang lainnya..
No related posts.




